Posted by: nicholaimissa | June 3, 2008

Membentuk Karakter Kota Melalui Desain Pencahayaan

Iklim globalisasi dan industrialisasi membawa keseragaman pada wajah kota, sebagaimana seragamnya gaya hidup warga kota. Kota-kota di dunia mengenakan produk nyaris sama antara satu kota dan kota lainnya, seperti tampak pada desain bangunannya.

Pemilihan elemen kota lainnya, seperti furnitur jalan, papan reklame, lampu jalan, telepon umum, sampai tempat sampah, yang merupakan produk fabrikasi dan diproduksi massal, turut berperan dalam terciptanya keseragaman.

Dalam menciptakan dan memperkuat karakter kota, desain memainkan peranan sangat vital. Desain kota yang berangkat dari unsur-unsur yang terkandung dalam budaya dan kearifan lokal memiliki karakter yang sangat kuat dan mampu menciptakan identitas kota.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam memperkuat karakter kota adalah melalui desain pencahayaan kota (urban lighting) karena menciptakan suatu kesan visual tertentu. Namun, kesalahan dalam menentukan dan memilih konsep pencahayaan kota juga dapat menjadi bumerang yang justru membuat pudarnya identitas kota.

Penekanan pada kesan visual melalui pencahayaan dapat dilakukan pada beberapa elemen vital ruang kota, misalnya pada lampu jalan, kawasan bersejarah, kawasan komersial, kawasan tepian air (water front), serta tetenger (penanda, landmark) kota.

Pencahayaan jalan

Secara umum, fungsi dari pencahayaan kota adalah menciptakan penerangan yang dapat mendukung berbagai aktivitas suatu lingkungan perkotaan. Pencahayaan jalan, misalnya, \’bertugas\’ menciptakan kondisi visual yang kondusif pada malam hari bagi pengendara kendaraan bermotor dan pejalan kaki sehingga mampu memberi kenyamanan, rasa aman, keselamatan, serta mendukung mobilitas kendaraan bermotor.

Pada perkembangannya, sebagai bagian dari perancangan kota, peran pencahayaan ruang kota tidak hanya dalam lingkup fungsional semata. Unsur estetika pun harus menjadi perhatian utama.

Penggunaan lampu jalan dan lampu dekoratif yang diproduksi massal menyebabkan terciptanya keseragaman antarkota. Di samping itu, pertimbangan pemilihan lampu jalan sering kali hanya memerhatikan estetika pencahayaan malam hari, di saat lampu masih \’bernyawa\’, tanpa mempertimbangkan kondisi pada siang hari di mana tanpa cahaya ternyata kondisi fisik lampu tidak menarik secara visual dan sering kali tidak kontekstual dengan fasilitas kota lainnya.

Lampu jalan harus mempertimbangkan konteks kota sehingga mampu menciptakan kesatuan desain yang utuh dan dapat memperkuat karakter kota. Desain dan peletakan lampu jalan harus dipertimbangkan bersama dengan desain furnitur jalan lain, atau hanya akan menyajikan polusi visual semata.

Unsur dekoratif dan kekhasan yang berangkat dari kearifan budaya lokal dapat menjadi pertimbangan konseptual. Dengan demikian, sebuah kota memiliki fasilitas yang betul-betul menjadi miliknya agar spirit lokalitas tetap terjaga, bukan mengadopsi sesuatu yang datangnya entah dari mana.

Pencahayaan pada bangunan

Konsep pencahayaan pada bangunan dalam lingkungan perkotaan harus memiliki pendekatan berbeda karena karakteristik tiap bangunan yang berbeda. Bangunan lama, misalnya, biasanya kaya berbagai ornamen dan detail arsitektural menarik, serta membutuhkan aksentuasi dalam memperkuat karakternya. Penekanan dapat dilakukan dengan memberikan cahaya dalam intensitas yang tinggi, penggunaan filter warna, maupun dengan menciptakan pola cahaya yang mempertegas pola pada fasade bangunan.

Pendekatan yang berbeda terjadi pada kawasan komersial. Sebagai kawasan yang sangat lekat dengan iklim globalisasi dan industri, kawasan ini sering kali memainkan peran dalam menipisnya identitas lokal. Namun, dengan melakukan pendekatan desain yang beorientasi pada budaya lokal, bukan tidak mungkin justru melalui kawasan komersiallah karakter kota dapat ditonjolkan.

Preseden nyata ditunjukkan kawasan komersial Jalan Malioboro di Yogyakarta. Penggunaan lampu jalan yang sangat khas dengan menampilkan ornamen serta warna yang sangat identik dengan budaya lokal semakin memperkuat karakter yang dimilikinya.

Di sisi lain, pendekatan desain pencahayaan pada kawasan komersial tentu saja bukan semata mengenai pencahayaan jalan. Billboard dan papan reklame lainnya merupakan bagian yang harus mendapatkan perhatian lebih. Penggunaan pencahayaan pada papan reklame tanpa konsep yang jelas pada tiap bangunan menghasilkan kualitas visual sangat buruk, bahkan menciptakan polusi cahaya yang sangat berbahaya bagi pengguna jalan, terutama pengendara kendaraan bermotor berkecepatan tinggi.

Tentu saja hal ini bukan pekerjaan mudah, mengingat adanya kepentingan ekonomi dan bisnis yang melatarbelakangi kawasan tersebut. Perlu kebijakan yang kuat dan arahan rancangan yang telah dipertimbangkan sangat matang, serta memerhatikan tidak saja sisi fungsional dan desain pencahayaan, tetapi juga pertimbangan sisi ekonomi yang menguntungkan semua pihak.

Penanda kota

Elemen kota lainnya yang perlu mendapatkan penekanan pada malam hari tentu saja tetenger (penanda) kota. Sebagai penanda kota, elemen ini harus mendapat penekanan lebih dibandingkan elemen lain. Tetenger kota dapat berupa bangunan, tugu, sculpture, jembatan, atau karya arsitektural lainnya.

Penekanan melalui pencahayaan dapat dilakukan dengan menampilkan detail yang spesifik, elemen struktur, tekstur, maupun menciptakan efek bayangan.

Penciptaan kesan visual yang dramatis pada tetenger kota akan menghadirkan pengalaman terhadap ruang kota pada setiap orang yang melaluinya. Pengalaman ruang yang terus terbentuk akan menimbulkan orientasi terhadap ruang kota sehingga peran tetenger kota sebagai elemen penanda pun akan tercapai.

Dalam mencapai tujuan terbentuknya karakter kota, desain pencahayaan harus dipertimbangkan secara komprehensif dan mengacu pada sebuah konsep makro yang jelas. Desain pencahayaan kota harus dapat terbaca sebagai pola besar yang jelas dalam lingkungan perkotaan, elemen mana yang berperan sebagai titik awal dan elemen mana yang merupakan titik klimaksnya. Tentu saja setiap elemen perancangan harus berangkat dari kearifan budaya lokal setiap kota. Tanpa itu semua, hanya akan ada satu identitas kota di seluruh dunia yang mengacu pada satu kultur.


Leave a response

Your response:

Categories